Segelas Kopi
Pagiku ditemani segelas kopi, pahit rasanya dan hitam warnanya.
secangkir kopi ini tak kenal kaya dan miskin, kaum bangsawan atau kaum buruh, laki-laki atau perempuan, di caffe atau di warung klasik tempo dulu.
Hitamnya menjadi warna khas, manis dan pahit tergantung seleranya masing-masing.
Kehidupan sangat erat dengannya sebab ia bisa dirasakan oleh siapapun itu.
Dibalik secangkir kopi, aku termenung, aku berfikir, aku menelisik, aku menjadi liberal, aku bertanya-tanya hanya untuk mencari sebuah jawaban.
rupanya dibalik aku yg bertanya-tanya, hati kecilku berbisik bahwa kopi itu laksana kehidupanmu, kita bahkan kalian.
pahit manisnya kopi, seperti kehidupan yg kadang-kadang bahagia kadang menyedihkan, kadang di atas, kadang dibawah, itu semua harus dinikmati.
Sebab, ketika kita menikmati hidup ini, maka suatu saat akan merasakan nikmatnya, seperti menyeduh kopi yg pahit, lama-kelamaan dibalik rasa pahitnya akan terisa nikmat tanpa kita sadari.
Selain itu bahwa kopi mengajari bahwa, hitam tidaklah selalu buruk atau lain-lain dan putih tak selamanga itu baik.
Dari secangkir kopipun kita bisa belajar bagaimana mengarungi lika-liku kehidupan yang kadang ia selalu berputar seperti poros bumi, seperti jam, seperti bundaran yg akan selalu berputar-putar disana.
So, nikmati hidup ini, jika kamu susah jangan lupa untuk selalu berikhtiar dan tawakkal (berdo'a) kepada tuhanmu.
#Jangan lupa ngopi
Minomlah kupi Karne idop butuh inspirasi dari pahit manisnye kupi
BalasHapusBukannye janji janji yang dilontarkan sana sini tapi kunjung ditepati
Karena rasanya tk pernah bohong
Hapus