manajemen kelas

Nama : Ikbal Romadon (11901098)

Kelas : PAI 4G

Mata Kuliah : Magang 1

 

MANAJEMEN KELAS

A.    Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. bahwa manajemen adalah suatu usaha untuk menggerakkan orang-orang supaya dapat melakukan kegiatan secara bersama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. bahwa kelas diartikan pada sekelompok orang atau siswa yang sedang mengikuti proses pembelajaran.

Setelah kita memperoleh pengertian kedua istilah di atas antara manajemen dan kelas. Selanjutnya akan kita peroleh apa yang dimaksud dengan pengertian manajemen kelas. Bila kita merujuk pada istilah pengertian manajemen dalam Bahasa Indonesia, yaitu pengelolaan yang artinya penyelenggaraan. Manajemen kelas adalah suatu bentuk penyelenggaraan proses belajar siswa, atau suatu bentuk usaha guru dalam menciptakan kondisi belajar siswa yang kondusif dan memeliharanya bila terjadi suatu kendala ke arah tujuan pembelajaran yang lebih efektif.

Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah

 

 

B. KONSEP MANAJEMEN KELAS

Pengertian manajemen kelas menurut beberapa para ahli, yaitu :

a.    Menurut Suharsimi Arikunto, manajemen kelas merupakan usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang optimal.

b.    Menurut Ahmad Sulaiman, manajemen kelas merupakan segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif, yang menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.

c.    Menurut Nawawi, manajemen kelas yaitu kemampuan guru atau wali kelas dalam mendaya gunakan potensi kelas dalam bentuk pemberupan kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia bisa dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berhubungan dengan kurikulum dan perkembangan murid.

d.   Menurut Lois V. Jhonson dan Mary Bany, manajemen kelas merupakan proses seleksi menggunakan alat tertentu terhadap problem dan situasi.

Dengan demikian, manajemen kelas merupakan segala sesuatu yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik. Dalam mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif tidak terlepas dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, serta memanfaatkan sumber daya secara optimal. Tujuan dari pengelolaan kelas ini yaitu agar terselenggaranya pembelajaran yang efektif dan efisien. Tolak ukur pencapaian efektivitas dan efisien dilihat dari nilai-nilai pendidikan yang digunakan atau dianut saat ini. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu nilai-nilai perjuangan, kognitif, afeksi, solidaritas sosial, moralitas, keagamaan, dan lain sebagainya yang dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan.

Menurut Weber tentang manajemen kelas dengan berdasarkan pendekatan sosial, sebagai berikut :

  1. Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin.
  2. Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban kelas suasana kelas melalui intimidasi.
  3. Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
  4. Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk yang telah disajikan.
  5. Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik.
  6. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.
  7. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional kelas yang positif.
  8. Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.

Dapat disimpulkan, bahwa manajemen kelas meliputi ketertiban kelas, memaksimalkan kebebasan siswa dalam konteks pembelajaran, perencanaan pembelajaran, mengembangkan tingkah laku positif peserta didik, mengembangkan hubungan interpersonal, dan mewujudkan iklim sosioemosional yang positif. Dalam manajemen kelas perlu memerhatikan aspek-aspek yaitu sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif, dan kreatif.


C. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS

Prinsip-prinsip dasar dalam manajemen kelas sangat dibutuhkan. Dengan adanya prinsip dasar ini guna memperkecil munculnya masalah atau gangguan dalam proses mengelola atau memanajemen kelas. Berikut ini beberapa prinsip dasar yang ada di dalam manajemen kelas.

a.       Pendidik harus hangat dan antusias, hal ini dapat dilakukan pendidik kepada peserta didik dengan melakukan tanya kabar sebelum memulai pembelajaran di dalam kelas; guru berdoa dengan khusyuk untuk peserta didiknya; memberikan waktu untuk peserta didik mengemukakan masalah-masalah yang dihadapinya; tidak pelit memberikan pujian kepada peserta didik; membantu peserta didik dalam meghadapi problemnya; saling sharing pendapat dengan peserta didik; dan menghargai pendapat yang dikemukakan peserta didik.

b.      Pendidik mampu memberikan tantangan, dengan adanya tantangan dalam pembelajaran membuat rasa ingin tahu peserta didik meningkat. Pendidik berusaha memancing antusias peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Pendidik bisa melakukan evaluasi pembelajaran secara berkala, misalka dalam seminggu melakukan satu kali evaluasi; pendidik memberikan semacam quis atau cerdas cermat dan teka-teki soal dalam pembelajaran; menggunakan metode yang bervariasi dan tidak monoton, sehingga peserta didik tidak mudah bosan dalam pembelajaran.

c.       Pendidik bersifat luwes, artinya sebagai pendidik tidak memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan selalu tahu dalam hal apapun. Pendidik mampu meposisikan dirinya sebagai orang tua, saudara, teman, maupun sahabat bagi para peserta didiknya.  Pendidik bisa nenperlakukan mereka dengan layaknya seperti sahabat dan sering menghabiskan waktu bersama mereka.

d.      Pendidik memberikan penekana yang positif pada peserta didik, artinya di dalam kelas pandangan  dan sikap pendidik terhadap suatu hal, dapat memberikan pengaruh besar bagi mereka. Pendidik jangan mencela peserta didik yang berbuat negatif dan selalu mengingatkan mereka terhadap tujuan dan cita-citanya.

e.       Penanaman disiplin diri, sebagai pendidik bagaimana caranya membuat peserta didik mengembangkan sikap disiplin dengan baik. Pendidik salah satu menjadi tauladan yang sesuai bagi mereka. Pendidik menunjukkan bahwa perlunya menjunjung tinggi sikap disiplin dengan menjadikan kebiasaan dan kepribadian dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai syarat membuat satu model pembelajaran yang efektif dan efisien dengan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen kelas. Menurut Muhaimi, ada 6 (enam) prinsip manajemen kelas, sebagai berikut :

  1. Prinsip Readyness (Kesiapan), merupakan kesiapan belajar berupa kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, intelegensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang paten, motivasi, presepsi, dan faktor-faktor lain yang menjadikan mungkin seseorang bisa belajar.
  2. Prinsip Motivation (Motivasi), merupakan tenaga yang mendorong atau menarik yang menjadikan terdapat perilaku ke arah  suatu tujuan tertentu. Terdapatnya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, memiliki perhatian dan rasa ingin tahu yang kuat untuk berpartisipasi dalam aktivitas belajar, berupaya dengan keras, dan memberikan waktu yang cukup untuk melaksanakan aktivitas  tersebut dan juga terus berkerja hingga tugas-tugas tadi terselesaikan.
  3. Prinsip Perhatian, merupakan sebuah strategi kognitif yang meliputi empat keterampilan yakni orientasinya pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri terhadap aspek-aspek yang relevan, dan mengesampingkan stimuli yang tidak relevan. Di dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar.
  4. Prinisp Presepsi, yaitu semakin baik presepsi tentang sesuatu maka mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu itu; di dalam pembelajaran harus menghindari presepsi yang salah juga pada peserta didik mengenai apa yang dipelajari; dalam pembelajaran harus diusahakan berbagai sumber belajar yang bisa mendekati benda nyata sehingga peserta didik mendapatkan presepsi yang sangat akurat.
  5. Prinsip Retensi, merupakan apa yang perlu ditinggal dan bisa diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Retensi tersebut membuata apa yang sudah dipelajari bisa bertahan atau tertinggal lebih lama pada struktur kognitif (pengetahuan) dan bisa diingat kembali jika dibutuhkan. Karena itu retensi sangat menjadi penentu hasil yang didapatkan peserta didik dalam proses belajar mengajar.
  6. Prinsip Transfer, merupakan suatu proses yang mana sesuatu pernah dipelajari bisa berpengaruh pada proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan begitu transfer artinya pengaitan penegtahuan yang telah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diberikan di sekolah selalu diasumsikan atau diinginkan bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam perkerjaan yang akan dihadapi nantinya.

D. TUJUAN MANAJEMEN KELAS

Tujuan manajemen kelas (pengelolaan kelas) pada umumnya yaitu menyediakan fasilitas untuk berbagai atau bermacam-macam aktivitas belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan dan digunakan memungkinkan siswa belajar dan berkerja, menjadikan suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, pengembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi kepada siswa. Menurut A.C. Wraag, ketercapaian tujuan manajemen kelas dapat dideteksi atau dilihat dari anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan yang sopan dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-tugasnya yang sesuai dengan kemampuannya.

Jika tujuan dari manajemen kelas sudah tercapai, kemungkinan ada 2 (dua) sebagai indikator keberhasilan yang dialami peserta didik dari manajemen tersebut, sebagai berikut:

a.       Apabila sesudah itu setiap peserta didik mampu untuk terus belajar dan berkerja. Peserta didik tidak mudah menyerah dan pasif manakala  mereka merasa tidak tahu atau kurang memahami tugas yang harus dikerjakan.  Setidaknya, peserta didik masih menunjukkan semangat dan gairahnya untuk terus mencoba dan belajar, meski mereka menghadapi hambatan dan problem yang sulit sekalipun.

b.      Apabila peserta didik mampu untuk terus melakukan pekerjaan tanpa membuang-buang waktu dengan percuma. Artinya, setiap siswa akan berkerja secepatnya supaya ia segera dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini akan membuat siswa mampu menggunakan waktu belajarnya seefektif dan seefisien mungkin.

 

 

 

REFERENSI

W. Arfani, Junita dan Sugiyono. 2014. Manajemen Kelas Yang Efektif: Penelitian di Tiga Sekolah Menengah Atas. Jurnal Akutabilitas Manajemen Pendidikan. Volume 2, Nomor 1.

Sunhaji. Konsep Manajemen Kelas dan Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Kependidikan, Vol.2, No.2, 2014.

Hamidah. Konsep Manajemen Kelas. Jurnal Serunai Administrasi Pendidikan, Vol.7, No.1, 2018.

Astuti. Manajemen Kelas yang Efektif. Jurnal Manajemen Pendidikan, Vol.9, No.2, Agustus 2019.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Berfikir

Rindu

Kelabu